Diamnya Seorang Ibu

Kemarin saya mencoba untuk mengikuti sebuah perlombaan penulisan aksara Batak. Perlombaan ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi saya tentang pentingnya menjaga warisan budaya, khususnya melalui giat literasi dalam aksara Batak. Sejujurnya, keinginan untuk mengikuti perlombaan ini begitu besar, karena di dalam hati saya ada kerinduan untuk kembali menghidupkan aksara Batak, dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga saya sendiri.

Dorongan itu akhirnya membawa saya untuk menuangkan isi hati dan pikiran ke dalam sebuah puisi. Puisi tersebut saya beri judul “Diamnya Seorang Inang”, yang menggambarkan kegelisahan sekaligus harapan seorang ibu terhadap masa depan budayanya.

Diamnya Seorang Inang
Karya : Lusi Repina Simarmata

Hari ini aku menikmati diamku
Namun, ada yang berdenyut pelan di dalam
Dunia berlomba menuju peradaban yang kian modern
Sementara aku bertanya : Mengapa asalku mulai ditinggalkan?

Bukankah aksara telah dihidupkan leluhurku
diukir, disuratkan, dilestarikan sebagai tanda kita ada?
Aku pun pernah mengenalnya - sekilas di ruang kelas
Namun, tak sempat tumbuh menjadi cinta

Kini, sebagai inang
Aku belajar kembali aksaraku yang terasa asing
Sebab aku ingin budayaku tetap hidup
Dan kusadari : masa depan budayaku dimulai dari rumahku

Melalui puisi ini, saya menyadari bahwa perjalanan mengenal kembali aksara Batak bukanlah hal yang mudah. Dahulu, saya memang pernah mempelajarinya, tetapi hanya sebatas kewajiban di ruang kelas, tanpa benar-benar menumbuhkan rasa memiliki. Kini, ketika saya berada pada peran sebagai seorang ibu, kesadaran itu datang dengan lebih kuat dimana budaya tidak akan bertahan jika tidak diwariskan.

Apa yang mendasari saya mengikuti perlombaan ini adalah rasa khawatir yang semakin nyata. Bahasa Batak perlahan mulai tergerus, terutama di kalangan generasi muda yang cenderung lebih tertarik mempelajari bahasa asing dibandingkan bahasa daerahnya sendiri. Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin suatu hari nanti bahasa dan aksara Batak hanya akan menjadi cerita masa lalu.

Sebagai seorang ibu, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk memulai perubahan, meskipun dari langkah kecil. Mengajarkan kembali bahasa dan aksara Batak di dalam keluarga adalah bentuk nyata dari upaya tersebut. Saya percaya bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari hal besar; justru dari rumah, dari percakapan sehari-hari, dari tulisan sederhana, budaya itu dapat terus hidup dan bertumbuh.

0 comments