Pregnancy Story : My Wedding Anniversary Gift
Waktu Tuhan pasti yang terbaik,
walau kadang tak mudah dimengerti...
Memasuki usia tahun pernikahan ke-2, kehadiran anak yang memenuhi rumah sudah semakin menjadi kerinduan terdalam bagi saya dan suami. Akhirnya tanda-tanda kehamilan itu ada di bulan pernikahan kami, Juni 2020. Sebelumnya saya ingin bercerita tentang masa penantian kami selama dua tahun ini.
Pada Juli 2019 setelah melewati satu tahun pernikahan, kami mencoba untuk
menjalani program hamil (promil) di Sammarie Wijaya dengan Prof. Jacoeb, tapi dikarenakan adanya SK mutasi pekerjaan saya ke Bengkulu maka promil ini kami
hentikan. Namun, kami tidak mengetahui dengan jelas apakah yang menjadi kendala bagi kami berdua sehingga belum terjadi proses kehamilan alami.
Mengawali Tahun 2020, setelah liburan akhir tahun 2019 di Sumatera
Utara, kami memutuskan untuk mencoba melanjutkan promil di RSCM Kencana dengan Prof. Budi Wiweko. Kami sudah berencana menjalani program hamil buatan, seperti inseminasi atau bayi tabung. Promil
ini pun tidak berjalan dengan lancar karena terkendala waktu dan jarak antara Jakarta dan Bengkulu.
Pada awal Maret 2020 virus Covid-19 telah memasuki wilayah Indonesia, dan untuk menghindari penyebaran virus Covid-19 Pemerintah mengeluarkan kebijakan melakukan pekerjaan secara daring dari rumah atau istilahnya Work From Home (WFH). Dengan adanya peraturan WFH saya kembali ke Jakarta pada tanggal 18 Maret 2020, dan hampir 2,5 bulan berada di Jakarta. Salah satu alasan juga mengapa promil di RSCM Kencana tidak dilanjutkan karena merebaknya virus Covid-19 yang sebisa mungkin kami menghindari rumah sakit. Di 2,5 bulan masa pandemi, kami tidak sepenuhnya menajalankan program hamil secara alami, tapi setidaknya saya masih berkutat dengan olahraga di rumah dan masak menu makanan tiap hari biar lebih hygienis. Hal ini untuk menjaga imunitas tubuh agar terhindar dari virus Covid-19.
Hingga tanggal 1 Juni saya kembali bertugas ke Bengkulu. Apa yang saya rasakan? Saya belum merasakan apapun, tapi buah hati kami sudah memenuhi rahim saya. Bahagia rasanya mengetahui kehamilan ini setelah di bulan-bulan pertama pernikahan selalu kecewa akan garis satu di testpack, namun kali ini senyum merekah menghiasi pagiku di tanggal 15 Juni 2020. Dikarenakan tugas di Bengkulu dan long distance marriage yang kami jalani, saya hanya bisa memberitahu suami melalui texting Whatsapp.
Beberapa hal yang ingin kushare terkait kehamilan alami ini, karena saya menyakini ini adalah berkat Tuhan pada waktu-Nya yang tepat dan juga doa-doa dari orang yang begitu mencintaiku.
1. Doa Novena Tiga Kali Salam Maria
![]() |
| Buku doa sejak kuliah |
Bulan April ketika WFH saya menyampaikan kepada suami bahwa saya akan berdoa Novena dengan intensi doa saya hamil. "Lakukanlah," seperti itulah katanya. Bagi saya doa novena ini selalu membawa jawaban doa bagi saya, maka saya menyakini doa novena ini akan menjadi jawaban bagi kehamilan saya juga. Intensi doa novena saya, yaitu sidang skripsi dan lulus 3,5 tahun, lolos seleksi CPNS BPK RI, jodoh, dan kehamilan. Jadi, buat teman-teman yang percaya akan kehadiran dan pertolongan Bunda Maria bisa mencoba untuk melakukan devosi kepada Bunda Maria.
2. Berkat dari Keluarga Besar, terlebih Orangtua
![]() |
| Adat Batak Simalungun |
Kehadiran anak di keluarga kecil kami ini juga menjadi kerinduan terbesar bagi keluarga. Dulu sebelum menikah, saya memang mengutarakan untuk dipakaikan bulang dan gotong saat sesi pemberian ulos hela (ini digunakan pada pesta pernikahan dengan adat Batak), namun setelah diskusi hal ini tidak jadi direalisasikan. Orangtua saya sepertinya mengingat akan hal ini dan mereka menyampaikan keinginan hatiku ini pada 1 Januari 2020. Besar harapan mereka bahwa ini membuat batin saya menjadi semangat, dan terselip doa untuk mendapatkan keturunan bagi kami.
3. Rezeki Rumah Baru
![]() |
| Syukuran rumah baru |
Mei 2020 Tuhan memberikan kami berkat rumah baru untuk kami tempati, setelah melalui pencarian rumah yang layak dan tepat untuk kami huni. Sebenarnya suami saat masih single sudah mempunyai rumah di Depok, tapi kami memilih tinggal di RJA Kalibata dan selanjutnya pindah ke Apartemen Kalibata. Tinggal di apartemen selama WFH memberikan dampak kesehatan mental yang tidak baik buat kami, karena terbatasnya ruang gerak di apartemen. Ada sisi positif Covid-19, yaitu kami berniat untuk membeli rumah yang layak sebagai tempat tinggal keluarga. Kami membuat acara syukuran dan doa bersama dengan Pendeta untuk memberkati rumah kami. Dan, terselip juga doa untuk mendapatkan keturunan bagi keluarga kecil kami dan keluarga bang Gindo dan eda.
Selain hal-hal di atas, seorang sahabatku bernama Sry Sianturi juga bermimpi tentang kehamilanku. Jadi, saya merasa dikelilingi oleh doa dan berkat dari semua orang yang mencintai keluarga kecil kami ini. Terima kasih Tuhan :)






0 comments